Harga Cabai Anjlok di Aceh Tamiang, Pedagang Mengeluh Rugi di Bulan Ramadan

  • Bagikan

Tabloidbnn.info | Aceh Tamiang – Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, nasib kurang beruntung dialami para pedagang cabai di Aceh Tamiang. Pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut, harga jual cabai justru merosot tajam, berbanding terbalik dengan harapan pedagang untuk meraup untung di bulan puasa.

​Setelah sempat menikmati harga tinggi pada akhir tahun lalu, kini para pedagang harus “mengelus dada”. Penurunan harga ini diduga dipicu oleh melimpahnya stok di pasaran yang tidak dibarengi dengan daya beli masyarakat yang stabil.

​Faisal(50), seorang pedagang cabai di Kecamatan Kota Kualasimpang asal Kampung Bukit Tempurung, mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi pada hampir semua jenis cabai.

​Berikut perbandingannya:
Sebelumnya di tingkat pasar, harga cabai merah rata-rata berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Cabai Ijo 25.000-30.000/kilogramnya dan cabai kecil(cabai rawit) mencapai 40.000-45.0000/kilogramnya,

Namun, belakangan ini, harga jual cabai merah bisa jauh lebih rendah, bahkan menyentuh harga Rp15.000 per kilogram, cabai Ijo Rp18.000/kilogram dan cabai rawit Rp20.000/kilogramnya, ungkap Faisal, Rabu, (25/2/2026)

Biasanya dalam sehari penjualan bisa mencapai 500 kilogram, namun saat ini harga mengalami penurunan yang cukup tajam,” ujar Faisal pada Rabu (25/02/2026).

​Menurut Faisal, anjloknya harga ini merupakan dampak dari melemahnya perputaran ekonomi di Aceh Tamiang. Kondisi ini membuat warga enggan berbelanja dalam jumlah besar, sehingga stok pedagang menumpuk.

​”Saat ini stok cabai di rumah saya masih menumpuk sekitar 300 kilogram. Kami terpaksa menjual apa adanya untuk menekan kerugian yang lebih besar agar barang tidak busuk,” tambahnya.

​Mewakili para pedagang lainnya, Faisal berharap pemerintah daerah dapat mengeluarkan regulasi atau kebijakan yang menjamin harga acuan jual-beli. Hal ini dinilai penting agar pedagang tidak terus-menerus menjadi pihak yang paling dirugikan saat terjadi fluktuasi harga yang ekstrem di pasar lokal.

Penulis: Abdul Karim
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *