Pertamina EP Rantau Field merupakan bagian dari Regional Sumatera Subholding Upstream Pertamina yang beroperasi di wilayah Aceh Tamiang, fokus pada pencarian dan produksi migas demi ketahanan energi nasional.
Tabloidbnn.info | Rantau – Efisiensi dan inovasi menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan produksi migas di lapangan matang (mature field).
Perwira Pertamina EP (PEP) Rantau Field sukses menjawab tantangan tersebut melalui inovasi USAT (Ultimate Sand Trap), sebuah teknologi tepat guna yang terbukti efektif menekan risiko kehilangan produksi (loss production) akibat masalah kepasiran. Selasa, 24 Februari 2026.
Inovasi yang dikembangkan secara internal ini tidak hanya memperpanjang umur pompa, tetapi juga memberikan dampak finansial yang signifikan bagi perusahaan melalui penghematan biaya operasional dan optimalisasi pendapatan hingga miliaran rupiah.
Field Manager PEP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa karakteristik sumur di lapangan Rantau yang sudah mature seringkali menghadapi kendala teknis berupa material pasir yang ikut terangkat bersama aliran fluida. Hal ini berpotensi merusak pompa dan menghambat pengangkatan minyak mentah (crude oil).
“Sebelumnya, kami telah menerapkan inovasi We Are Fines pada tahun 2023. Hadirnya USAT sejak 2024 merupakan pelengkap sekaligus penyempurna untuk mengatasi masalah kepasiran dari berbagai aspek teknis,” ujar Tomi.
Hingga September 2025, teknologi USAT telah diimplementasikan pada tiga sumur kunci (P-420, P-383, dan P-406). Tomi menambahkan, sebelum adanya integrasi We Are Fines dan USAT, angka risiko operasional mencapai 62%. “Kami optimis penerapan menyeluruh ini akan terus meningkatkan efisiensi dan penghematan di masa depan,” imbuhnya.
Inovasi USAT bekerja dengan cara menambahkan aksesoris pada rangkaian tubing pompa Electric Submersible Pump (ESP). Dari total 87 sumur di PEP Rantau, sebanyak 29 sumur mengandalkan pompa ESP yang rentan terhadap kerusakan akibat pasir.
Secara teknis, aksesoris USAT dipasang di tengah lapisan tubing untuk menahan pasir yang mengalami fallback (jatuh kembali ke dalam sumur). Dengan sistem ini, pasir tidak masuk ke dalam komponen pompa, melainkan tertampung di celah antara USAT dan tubing. Keunggulan lainnya, USAT memungkinkan pompa melakukan reverse circulating apabila terjadi penyumbatan.
Andi Surianto Sinurat, anggota tim pengembang dari Petroleum Engineering PEP Rantau, mengungkapkan bahwa USAT merupakan inovasi yang sangat ekonomis.
”Biaya produksi satu unit aksesoris USAT kurang dari tiga juta rupiah dengan masa pakai sekitar satu tahun. Materialnya pun sederhana, memanfaatkan potensi lokal seperti mata bor, tubing, tubing coupling, dan kawat, dengan proses pengerjaan hanya tiga hari,” jelas Andi.
Meski berbiaya rendah, dampaknya luar biasa. Sepanjang Januari 2024 hingga September 2025, inovasi ini berhasil:
- Menghemat biaya penggunaan rig sebesar 50%.
- Menekan angka kehilangan produksi (loss production) sebesar 4%.
Berkat efektivitasnya, tim PC Prove Alumni Pasir dari PEP Rantau yang mengusung inovasi USAT berhasil meraih penghargaan Platinum pada ajang Upstream Improvement & Innovation Award (UIIA) 2025. Prestasi ini diraih setelah bersaing dengan 108 delegasi terbaik di lingkungan Subholding Upstream Pertamina.
“Inovasi USAT adalah bukti nyata kolaborasi antara fungsi Petroleum Engineering (PO) dan Well Service (WS). Ini adalah wujud komitmen perwira PEP Rantau dalam mendukung target produksi migas nasional melalui cara-cara yang kreatif dan efisien,” tutup Tomi.












