Tabloidbnn info | Kuala Simpang – Di tengah lumpuhnya akses transportasi dan komunikasi akibat banjir besar yang melanda Aceh Tamiang sejak akhir November 2025 lalu, sebuah aksi heroik dilakukan oleh seorang aktivis perempuan demi menyelamatkan warga yang terisolasi.
Nora Yunita, perempuan muda asal desa bukit tempurung kecamatan kota Kualasimpang yang kini telah menetap di Kota Medan Sumatera Utara berjuang keras untuk menyelamatkan Keluarga dan kerabatnya dari bencana banjir bandang pada November 2025.
Lantaran akses darat terputus dan sinyal komunikasi hilang total sejak 26 Novembe 2025, ia nekat menembus wilayah Aceh Tamiang melalui jalur laut menggunakan perahu motor (boat) dari Pangkalan Susu menuju Salahaji, perbatasan Sumatera Utara dan Aceh.
Perjalanan berbahaya tersebut memakan waktu hampir 15 jam demi membawa bantuan logistik bagi warga terdampak, sebut Nora Yunita, Rabu, (31/12/2025).
Gerakan Kemanusiaan Berbasis Media Sosial
Keaktifannya di media sosial ternyata menjadi kunci utama. Melalui Instagram, Facebook, TikTok, dan WhatsApp Story, ia berhasil menghimpun informasi sekaligus menggalang donasi.
Hasilnya, berbagai gelombang bantuan berhasil masuk ke wilayah terdampak, salah satunya di Gang Siti Naung Kampung Bukit Tempurung Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang.
”Tanpa bantuan donatur dan teman-teman medsos, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya menjembatani bantuan untuk keluarga, kerabat, dan masyarakat Tamiang,” ujarnya dengan rendah hati.
Beberapa bantuan yang berhasil disalurkan berasal dari kolaborasi berbagai pihak, di antaranya:
Endatoe Foundation: Membawa bantuan medis lengkap dengan dokter.
Save the Children & Geutanyoe Foundation: Menyalurkan kebutuhan pokok anak-anak dan pengungsi.
Alumni SMA Negeri 1: Melalui sebuah perusahaan besar di Sumut, menyalurkan 250 paket sembako untuk warga Bukit Tempurung.
Ibu-ibu Pengajian: Komunitas lingkungan Jalan Bono, Medan Timur, yang turut memberikan donasi secara swadaya.
Sempat Berdebat dengan Pejabat Demi Rakyat
Aksi wanita yang juga mantan Sekretaris Persatuan Mahasiswa Aceh Tamiang (PERMATA) Yogyakarta tahun 2006 ini tidak berhenti pada penyaluran sembako. Pada 2 Desember 2025 malam, ia bersama Pj Datok Kampung Perdamaian mendatangi gudang dinas sosial setempat.
Di sana, ia sempat terlibat debat dengan Sekda dan Ketua DPRK Aceh Tamiang, Drs. Syuibun Anwar guna mendesak pengadaan tenda serta selimut bagi pengungsi yang bertahan di jalanan di depan Klinik dr. Deddy, Bukit Tempurung.
”Banyak warga kelaparan. Saya datang meminta beras, tenda, dan selimut karena stok di lapangan sudah habis,” tegasnya.
Ia menambahkan, salah satu momen paling menyentuh terjadi di Kualasimpang, di mana ia menemukan seorang bayi dari pedagang sayur yang sedang mengungsi.
Bayi tersebut dikabarkan sakit dan tidak mendapat asupan makanan selama beberapa hari. Dengan sigap, ia bersama tim langsung mengevakuasi ibu dan bayi tersebut ke rumah pribadi dr. Deddy di Payabedi untuk mendapatkan perawatan medis yang layak, ungkap Nora Yunita.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di tengah bencana, solidaritas dan keberanian individu mampu menembus batas-batas hambatan geografis demi menyelamatkan sesama.












