Tabloidbnn.info Kota Kupang-NTT — STIKOM Uyelindo Kupang mendirikan monumen untuk mengenang Bruno Sukarto, sosok yang dikenal sebagai pelopor pendidikan teknologi informasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Monumen setinggi lima meter itu berdiri megah di halaman depan kampus, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kayu Putih, Kupang. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena pada Jumat (13/3/2026).
Acara diawali dengan misa syukur dan pemberkatan monumen yang dipimpin oleh Hironimus Pakaenoni. Hadir pula Wali Kota Kupang Christian Widodo, Bupati Kupang Yosef Lede, keluarga almarhum, serta ratusan tamu undangan.
Perintis Sejak Usia Muda
Ketua Yayasan Uyelewun Indonesia, Tarsisius Tukang, mengatakan monumen tersebut dibangun untuk mengenang nilai, semangat, dan visi besar almarhum dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi informasi di NTT.
Bruno Sukarto dikenal sebagai sosok yang memulai berbagai lembaga pendidikan sejak usia sangat muda. Pada usia 24 tahun, ia mendirikan Yayasan Uyelewun Indonesia. Tiga tahun berselang, ia mendirikan STIKOM Uyelindo, dan pada usia 30 tahun mendirikan SMK Uyelindo.
Perjalanannya berlanjut dengan mengambil alih pengelolaan STIKOM Artha Buana di usia 37 tahun, dan Universitas Aryasatya Deo Muri saat berusia 48 tahun.
“Fokus utama beliau adalah agar NTT tidak tertinggal dari daerah lain, terutama dalam penguasaan teknologi informasi. Karena itu tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai pelopor pendidikan IT di NTT,” ujar Tarsisius.

Hingga wafat pada 2022, lembaga-lembaga yang dirintisnya terus berkembang dan memberikan kontribusi besar dalam mencetak sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.
“Karya-karya harus tetap berlanjut. Kepergiannya begitu menyakitkan, tetapi visi, spirit, dan semangatnya akan tetap hidup dan dilanjutkan oleh siapa pun yang menahkodai lembaga-lembaga yang telah didirikannya,” kata Tarsisius.
“Monumen Hidup” dari Ribuan Lulusan
Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut monumen ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Hari ini kita meresmikan monumen untuk mengenang Bruno Sukarto. Namun sesungguhnya, jauh sebelum monumen ini berdiri, beliau telah lebih dahulu membangun monumen yang hidup — yaitu karya pendidikan yang terus berkembang hingga saat ini,” ujarnya.
Melki juga mengisahkan kecintaan Bruno Sukarto terhadap ilmu pengetahuan sejak muda. Sebuah kisah yang kerap diceritakan: sebagai mahasiswa, ia lebih memilih membeli buku daripada membeli beras.
“Ia rela membiarkan perutnya kosong, tetapi tidak pernah membiarkan pikirannya kosong dari ilmu pengetahuan,” kata Melki.
Dari kecintaan itulah lahir keyakinan bahwa masa depan dunia ditentukan oleh penguasaan teknologi informasi. Pada 1997, Bruno Sukarto datang ke Kupang dan mendirikan Yayasan Uyelewun Indonesia, yang kemudian melahirkan STIKOM Uyelindo — di masa ketika teknologi digital masih terasa jauh dari kehidupan masyarakat NTT.
“Inilah monumen hidup yang dibangun oleh Bruno Sukarto — generasi muda yang terdidik dan mampu membawa teknologi informasi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat NTT,” ujar Melki.
Menuju Universitas
Melki turut mengapresiasi upaya civitas akademika STIKOM Uyelindo yang terus melanjutkan visi almarhum, termasuk rencana pengembangan kampus menjadi universitas. Proses tersebut kini semakin mendekati kenyataan setelah dilakukan asesmen lapangan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2 Maret 2026.
“Perkembangan ini tidak hanya penting bagi STIKOM Uyelindo, tetapi juga bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT. Di tengah perkembangan ekonomi digital, kemampuan menguasai teknologi menjadi kunci kemajuan daerah,” katanya.
Melki berharap monumen ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan bagi Bruno Sukarto, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa mimpi besar dapat lahir dari mana saja — termasuk dari daerah-daerah di NTT.
(*Rocky).












