Polemik Forum Cipayung Mimika Memanas: Ketua GMKI Bongkar “Cacat Prosedur” dan Singgung Eksklusivisme Alumni

  • Bagikan

Tabloidbnn.info. Timika. Ketegangan internal gerakan mahasiswa di Mimika mencuat ke ruang publik. Forum Alumni Pimpinan Cipayung yang sebelumnya digelar sebagai wadah diskusi strategis, kini justru menuai kritik keras dari pimpinan organisasi aktif.

Ketua Cabang GMKI Timika periode 2024–2026, Louis Fernando Afeanpah, melontarkan pernyataan tajam yang menyebut forum tersebut sarat masalah, mulai dari eksklusivisme hingga dugaan pelanggaran etika organisasi.

Dalam refleksinya yang berjudul *“Meritokrasi, Cacat Prosedur, dan Marwah Cipayung: Sebuah Testamen Integritas”*, Louis menilai ada paradoks serius di balik wacana meritokrasi yang diangkat dalam forum tersebut.

Di satu sisi, ia mengapresiasi pemaparan pemerintah terkait restrukturisasi birokrasi dan rotasi ratusan ASN sebagai langkah besar yang teknokratis. Namun di sisi lain, ia justru menemukan persoalan mendasar dalam tubuh gerakan mahasiswa itu sendiri.

“Di balik narasi meritokrasi, muncul paradoks: forum intelektual justru terjebak dalam eksklusivisme,” tegasnya.

Ia menyoroti fakta bahwa forum yang mengatasnamakan Cipayung hanya melibatkan sebagian organisasi, tanpa mengikutsertakan seluruh elemen, khususnya PMKRI dan PMII. Kondisi ini disebutnya sebagai bentuk “amputasi integritas” yang mencederai filosofi dasar Cipayung sebagai kesatuan.

Lebih jauh, Louis juga menyinggung langkah forum alumni yang dinilai melangkahi struktur formal organisasi. Ia menyebut pernyataan sikap yang dihasilkan tanpa koordinasi dengan pimpinan cabang aktif sebagai bentuk “insubordinasi naratif”.

“Ketika senior bergerak tanpa koordinasi, kita harus bertanya: bagaimana kita menuntut pemerintah taat sistem, jika di internal kita sendiri aturan diabaikan?” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa praktik semacam ini berpotensi memecah soliditas gerakan mahasiswa. Fragmentasi internal, menurutnya, justru membuka ruang bagi kekuatan eksternal untuk memanfaatkan perpecahan melalui strategi pecah belah.

Meski demikian, Louis menegaskan kritik tersebut bukan untuk mendeligitimasi peran para senior. Ia tetap mengakui kontribusi alumni sebagai fondasi gerakan, namun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penghormatan dan kepatuhan terhadap sistem organisasi.

Sebagai solusi, ia mendorong rekonsiliasi internal Cipayung di Mimika dengan melibatkan seluruh elemen organisasi secara utuh. Ia juga menekankan pentingnya penegasan peran forum alumni sebagai mitra strategis, bukan pengambil alih fungsi struktural.

Selain itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mengalihkan fokus dari konflik internal menuju pengawasan kebijakan publik, khususnya implementasi meritokrasi oleh pemerintah daerah.

“Jangan habiskan energi pada konflik internal. Kita harus kembali mengawal kebijakan: apakah benar berpihak pada rakyat, termasuk soal hak OAP dan penyelesaian persoalan konkret seperti sengketa lahan,” tegasnya.

Polemik ini menjadi pengingat keras bahwa soliditas gerakan mahasiswa di Mimika tengah diuji. Di tengah dinamika tersebut, seruan persatuan kembali digaungkan sebagai syarat utama menjaga peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual.

“Integritas adalah fondasi perjuangan. Tanpa itu, gerakan akan kehilangan arah,” tutupnya.

Penulis: ErwinEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *