Tragedi Penembakan di Tembagapura Tinggalkan Duka, Ketua Lemasa dan Lemasko Minta Aparat Ungkap Motif Pelaku

  • Bagikan

Tabloidbnn.info.Timika, – Tokoh masyarakat adat Suku Amungme dan Kamoro menyampaikan duka mendalam atas kejadian penembakan di wilayah Tembagapura yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASKO) Gerry Okoare bersama Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) Stingal John Beanal menyampaikan atas peristiwa tersebut.

AaKeduanya menilai tanah Amungsa dan wilayah Kamoro merupakan ruang kehidupan yang harus dijaga bersama, sehingga setiap bentuk kekerasan yang menimbulkan korban jiwa, ketakutan, serta gangguan stabilitas sosial sangat disesalkan.

Dampak dari kejadian tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga masa depan generasi muda Papua..

“Masyarakat diharapkan menahan diri dan tidak mudah terprovokasi, serta mengedepankan dialog dan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan permasalahan,” ujar Gerry kepada fajarpapua.com, Selasa (24/3).

Menurutnya, menjaga situasi keamanan dan perdamaian merupakan tanggung jawab bersama agar aktivitas sosial serta pembangunan tetap berjalan demi kesejahteraan masyarakat lokal.

Selain itu, kedua tokoh juga mendorong aparat keamanan untuk melakukan investigasi secara transparan, objektif, dan profesional guna mengungkap pelaku serta motif kejadian secara jelas.

“Proses yang terbuka penting untuk mencegah spekulasi yang dapat memperkeruh situasi, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum dan memberikan rasa keadilan bagi korban serta keluarga,” tutur Stingal John Beanal.

Dia berharap hasil investigasi dapat disampaikan melalui akuntabel kepada publik dengan tetap memperhatikan stabilitas keamanan di wilayah Mimika..

Tokoh adat Amungme dan Kamoro juga menegaskan komitmennya untuk terus berperan sebagai jembatan komunikasi antara, pemerintah, aparat keamanan, dan dunia usaha guna menciptakan situasi yang aman, damai, dan kondusif bagi masyarakat yang menginginkan pembangunan.

Dalam nilai budaya Amungme dan Kamoro, tanah dipandang sebagai ‘mama’ yang harus dijaga dan dilindungi bersama, sehingga keharmonisan hidup serta masa depan generasi Papua dapat tetap terpelihara.(red)

Penulis: FPEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *