Tabloidbnn.info.Timika,— Menjelang perayaan Hari Raya Paskah 2026 yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan kedamaian, Kabupaten Mimika justru diguncang oleh peristiwa berdarah. Dalam kurun waktu satu hari, dua orang dilaporkan tewas akibat aksi pembunuhan yang kembali memantik kekhawatiran publik terhadap situasi keamanan di Mimika, Papua Tengah.
Ketua KNPI Mimika, Awen Magai, menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia mengungkapkan bahwa salah satu korban adalah kakak kandungnya sendiri, menjadikan tragedi ini bukan hanya persoalan publik, tetapi juga luka pribadi yang mendalam.
“Ini tindakan yang tidak bisa ditoleransi. Saya mengecam keras pelaku pembunuhan ini. Aparat keamanan harus segera bertindak cepat, menangkap pelaku, dan memastikan kejadian serupa tidak terulang,” tegas Awen dengan nada penuh duka dan amarah.
Awen secara khusus mendesak Kapolres Mimika beserta jajaran untuk segera melakukan pengejaran intensif terhadap pelaku. Ia menilai, lambannya penanganan hanya akan memperburuk situasi dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung konflik yang terjadi pada tahun 2025 di Distrik Kwamki Narama, yang hingga kini menurutnya belum terselesaikan secara baik. Konflik tersebut sempat memakan korban jiwa.
“Peristiwa hari ini tidak bisa dilepaskan dari konflik sebelumnya yang belum selesai. Ini menjadi bukti bahwa ada persoalan mendasar yang belum ditangani secara serius,” tambahnya.
Awen juga meminta Kapolda Papua Tengah untuk turun tangan langsung dalam menangani kasus ini secara menyeluruh. Ia menegaskan dukungannya terhadap Kapolres Mimika, namun menekankan bahwa langkah konkret dan cepat sangat dibutuhkan untuk memulihkan rasa aman masyarakat.
Peristiwa ini menjadi ironi di tengah suasana menjelang Paskah—sebuah perayaan yang sarat makna pengorbanan, kasih, dan pengharapan. Masyarakat kini menanti ketegasan aparat, bukan hanya dalam menangkap pelaku, tetapi juga dalam menyelesaikan akar konflik yang terus berulang.
Jika tidak ada langkah tegas dan terukur, bukan tidak mungkin Mimika akan terus berada dalam bayang-bayang kekerasan yang mengancam stabilitas sosial dan kemanusiaan di tanah ini.













