Suasana perayaan malam Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah.
Timika, – Perayaan ekaristi malam paskah di sejumlah gereja katolik di Kabupaten Mimika seperti di Paroki Katedral Tiga Raja Timika, Paroki st Stefanus Sempan, Paroki St Sisilia, Sabtu (4/4) malam, berlangsung meriah.
Puluhan ribu umat katolik memadati gereja untuk mengikuti perayaan Sabtu Suci—malam menandai kemenangan terang atas kegelapan melalui kebangkitan Yesus Kristus.
Di Gereja Katedral Tiga Raja, perayaan misa dipimpin Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., didampingi Pastor Benyamin Magai, Pr. Sedangkan di Gereja Katolik Paroki Sempan dipimpin Pater Gabriel Ngga, OFM.
Ibadah diawali dengan upacara cahaya di halaman gereja. Dalam suasana gelap, lilin paskah dinyalakan sebagai simbol kehadiran Kristus, Sang Terang Dunia.
Prosesi kemudian berlanjut dengan perarakan masuk ke dalam gereja. Imam menyalakan lilin, diikuti umat yang hadir.
Cahaya lilin yang perlahan memenuhi ruang gereja menghadirkan suasana hening, syahdu, dan penuh pengharapan.
Sukacita paskah semakin terasa saat kidung kemuliaan dikumandangkan. Lonceng gereja berdentangan, lampu dinyalakan, menandai kebangkitan Kristus yang membawa terang bagi dunia. Liturgi sabda dilanjutkan dengan pembacaan Epistola dan Injil dari Matius 28:1-10 tentang kebangkitan Yesus.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus mengajak umat merenungkan makna terdalam Paskah. Ia mengatakan, kejahatan manusia menjadi akar penderitaan dan keterpisahan dengan Allah. Namun melalui kebangkitan Kristus, manusia dipanggil kembali kepada kehidupan yang penuh kasih dan keselamatan.
“Allah menciptakan segala sesuatu baik adanya. Namun dosa dan keserakahan manusia menjauhkan kita dari kasih Allah. Paskah adalah momentum pertobatan, kembali kepada jalan kebenaran dan hidup dalam kasih,” ungkapnya.
Uskup juga menyoroti berbagai persoalan kemanusiaan dan konflik yang masih terjadi, khususnya di Tanah Papua. Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog, hukum, dan hati nurani dalam menyelesaikan persoalan, bukan dengan kekerasan.
“Percuma kita merayakan Paskah jika masih membiarkan kejahatan dan kekerasan terjadi. Kebangkitan Kristus harus nyata dalam sikap hidup kita—menghargai martabat manusia dan menjaga ciptaan,” ujarnya.
Selain itu, ia turut mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan hidup dari eksploitasi berlebihan. Alam, kata dia, adalah ciptaan Allah yang indah dan harus dirawat sebagai rumah bersama.
Perayaan dilanjutkan dengan Litani Para Kudus, di mana umat berlutut, kemudian pemberkatan air baptis sebagai simbol pembaruan iman. Liturgi ekaristi mencapai puncaknya dalam komuni kudus, yang disambut umat dengan penuh sukacita.
Malam Paskah di Katedral Tiga Raja menjadi momen iman yang mendalam—dari gelap menuju terang, dari kematian menuju kehidupan. Cahaya lilin yang menyala bukan sekadar simbol, tetapi harapan baru bagi umat untuk hidup dalam kasih, damai, dan persaudaraan. (moa)













