Tabloidbnn.info.TIMIKA – Ini bukan lagi peringatan dini. Ini fase genting. Jalan utama Banti–Tembagapura—satu-satunya jalur hidup bagi ribuan warga—sedang runtuh perlahan. Pergeseran tanah yang kian brutal di sepanjang Kali Kabur membelah permukiman, merusak fondasi rumah, dan menggerus badan jalan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.26/04/2026
Di Wanegogom, Pertanian, hingga Kimbeli, tanah tidak lagi diam. Retakan menganga, bangunan bergoyang, dan warga bertahan di atas tanah yang bisa amblas kapan saja. Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan keselamatan.
Yang dipertaruhkan bukan hanya infrastruktur. Ini soal hidup dan mati.
Jika akses ini putus, Banti akan terkunci. Distribusi logistik berhenti. Akses medis terhenti.
Aktivitas ekonomi lumpuh. Anak-anak kehilangan jalur pendidikan.
Dalam hitungan waktu, krisis kemanusiaan bukan lagi kemungkinan—melainkan kepastian.
“Ini bukan sekadar jalan. Ini kehidupan kami. Kalau putus, kami habis,” ujar Dianus Omaleng, perwakilan Waa Banti, dengan nada tegas.
Namun di tengah situasi yang terus memburuk, respons yang ditunggu belum sebanding dengan ancaman di lapangan.
Sorotan kini tertuju pada Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia.
Dua aktor kunci yang memiliki kapasitas—dan tanggung jawab—untuk bertindak cepat.
Warga tidak meminta janji. Mereka menuntut aksi. Turunkan tim teknis sekarang. Amankan zona rawan. Evakuasi warga dari rumah yang sudah retak. Perkuat bantaran sungai sebelum semuanya terlambat.
Pastikan jalur ini tidak benar-benar putus.
Setiap jam tanpa tindakan memperbesar risiko. Setiap keterlambatan membuka peluang bencana yang lebih luas.
Di Banti, tanah terus bergerak. Pertanyaannya bukan lagi apakah jalan ini akan putus—tetapi kapan.
Dan ketika itu terjadi, semua pihak yang lambat bertindak akan ikut menanggung akibatnya.













