Polarisasi Politik Pemuda di Mimika Kian Amburadul, Karateker Pemuda Muslim Mimika Angkat Suara

  • Bagikan

Tabloidbnn.info. Timika, — Fenomena polarisasi politik di kalangan pemuda dinilai semakin tidak sehat dan mengkhawatirkan. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan kini berubah menjadi sumber perpecahan yang membelah pertemanan, organisasi, hingga persaudaraan.

Karateker Pemuda Muslim Mimika menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda di daerah. Pemuda hari ini disebut hidup di tengah zaman yang penuh kebisingan, di mana ukuran kepedulian bukan lagi kerja nyata, melainkan siapa yang paling keras bersuara di media sosial.

“Sedikit berbeda pandangan langsung dianggap lawan. Sedikit kritik langsung dicap musuh. Akibatnya, banyak pemuda kehilangan arah dan terjebak dalam konflik yang tidak produktif,” demikian pernyataan dalam refleksi sosial yang disampaikan di Timika, Senin (19/05/2026).

Ironisnya, energi besar pemuda yang seharusnya digunakan untuk membangun daerah, mengawal pendidikan, menjaga lingkungan, dan memperjuangkan kepentingan rakyat justru habis untuk saling menjatuhkan. Diskusi kehilangan substansi, organisasi berubah menjadi panggung kepentingan, sementara solidaritas hanya tersisa sebagai slogan.

Karateker Pemuda Muslim Mimika menegaskan bahwa posisi pemuda seharusnya menjadi jembatan persatuan, bukan bahan bakar perpecahan. Pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penengah di tengah situasi yang kacau, bukan justru ikut memperkeruh keadaan dengan fanatisme kelompok.

Saat ini, polarisasi politik disebut sudah berada pada titik yang “amburadul”, di mana:
yang benar dibenci karena tidak satu kelompok,
sementara yang salah tetap dibela karena berada dalam lingkaran yang sama.

Ukuran perjuangan pun dinilai mulai bergeser. Bukan lagi soal nilai, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat, tetapi soal kedekatan dan kepentingan kelompok tertentu.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka pemuda hanya akan menjadi alat politik musiman — dipakai saat ramai, dibuang saat selesai,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan tidak akan lahir dari pemuda yang sibuk saling menyerang. Perubahan hanya akan hadir dari generasi muda yang mampu berpikir jernih, berdiri independen, serta menjaga akal sehat di tengah gaduhnya kepentingan politik.

Karena itu, pemuda di Mimika diajak kembali pada fungsi utamanya sebagai kekuatan moral, kekuatan kontrol sosial, dan kekuatan perubahan.

“Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang sibuk membuat kubu, tetapi oleh mereka yang berani menyatukan arah perjuangan. Ayo Tong Jaga Timika,” tutup pernyataan tersebut.

(Erwin)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *