Tabloidbnn.info. Jakarta.Gila! Inflasi 650% Sukses Dijinakkan, Inilah Frans Seda Sang ‘Pahlawan Keuangan’ yang Jadi Andalan 4 Presiden RI
Bayangkan sebuah negara di mana harga barang naik berkali-kali lipat dalam hitungan hari, kas negara kosong melompong, dan roda ekonomi macet total. Kondisi mengerikan itulah yang nyata terjadi di Indonesia pada masa transisi tahun 1966. Angka inflasi melonjak gila-gilaan hingga menyentuh angka 650%!
Di tengah badai krisis ekonomi paling ekstrem dalam sejarah Republik ini, muncul seorang putra terbaik asal Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Franciscus Xaverius Seda, atau yang lebih dikenal sebagai Frans Seda.
Lewat tangan dingin dan kejeniusan ekonominya, angka inflasi fantastis itu berhasil dijinakkan! Tak heran jika sosoknya melintasi batas rezim dan menjadi menteri serta penasihat andalan bagi 4 Presiden Indonesia berbeda: Bung Karno, Pak Soeharto, B.J. Habibie, hingga Megawati Soekarnoputri.
Mari kita bedah kisah hidup sang raksasa ekonomi multidimensi yang telah menyelamatkan dompet negara ini!
1. Memegang Tugas “Mustahil” dari Pak Soeharto
Pada tahun 1966, di usianya yang baru menginjak 40 tahun, Frans Seda ditunjuk oleh Jenderal Soeharto untuk mengisi pos jabatan paling panas saat itu: Menteri Keuangan Republik Indonesia. Tugasnya cuma satu, tapi nyaris mustahil: menyelamatkan Indonesia dari kebangkrutan total.
Sebagai lulusan Katolieke Economische Hogeschool Tilburg, Belanda, Frans Seda langsung merumuskan strategi makro yang revolusioner. Ia menerapkan dua kebijakan sakral yang efeknya masih menjadi fondasi utama keuangan negara kita hingga detik ini:
Sistem Anggaran Berimbang (Balanced Budget): Memastikan negara tidak membelanjakan uang lebih banyak daripada pendapatan yang bisa diraih, guna menghentikan kebiasaan mencetak uang sembarangan yang memicu inflasi.
Kesatuan Penganggaran: Menyatukan seluruh pintu masuk dan keluar keuangan pemerintah agar tersentralisasi secara transparan di bawah Kementerian Keuangan.
Hasilnya? Ajaib! Perlahan tapi pasti, badai inflasi 650% itu merosot tajam, harga barang kembali stabil, dan kepercayaan internasional terhadap ekonomi Indonesia pulih kembali. Atas prestasi luar biasa inilah, ekonom senior Emil Salim menjuluki sahabatnya ini sebagai “Pahlawan Keuangan Indonesia”.
2. Dari Mantan Laskar Pejuang hingga Menteri Kepercayaan 4 Presiden
Frans Seda bukan sekadar ekonom yang duduk manis di belakang meja laboratorium kampus. Di masa mudanya (1945–1950), ia adalah seorang patriot sejati yang memanggul senjata di medan laga sebagai anggota Laskar KRIS (Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi). Ia bertaruh nyawa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman Belanda.
Karena integritasnya yang lurus dan otaknya yang encer, karier birokrasinya bertahan melintasi berbagai pergantian kekuasaan:
Era Bung Karno: Dipercaya menjadi Menteri Perkebunan dan Menteri Pertanian di usia muda (38 tahun).
Era Pak Soeharto: Menjadi Menteri Keuangan yang menyelamatkan ekonomi, lalu digeser menjadi Menteri Perhubungan demi merintis jalur penerbangan dan pelayaran di Indonesia Timur serta membangun pariwisata Nusa Dua, Bali.
Era B.J. Habibie: Dipanggil ke istana untuk menjadi Penasihat Presiden di bidang ekonomi saat badai krisis moneter 1998 melanda.
Era Megawati Soekarnoputri: Dipercaya menjadi Penasihat Wakil Presiden yang berlanjut hingga Megawati naik takhta menjadi Presiden RI.
3. Otak di Balik Raksasa Media Kompas Gramedia & Kampus Atma Jaya
Hebatnya lagi, pengabdian Frans Seda tidak berhenti di dalam lingkaran istana dan pemerintahan saja. Di sektor swasta, ia adalah tokoh legendaris yang membangun pilar-pilar penting peradaban modern Indonesia:
Raksasa Media: Bagi Anda yang sering membaca koran atau situs berita Kompas dan belanja buku di toko Gramedia, ketahuilah bahwa Frans Seda adalah sosok krusial di balik layarnya. Beliau menjabat sebagai Presiden Dewan Komisaris PT Gramedia dan PT Kompas Media Nusantara dalam waktu yang sangat lama.
Dunia Pendidikan: Ia adalah pendiri, perintis, sekaligus Rektor Pertama Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta.
Tokoh Iman: Sebagai tokoh Katolik paling berpengaruh di Indonesia, ia dipercaya menjadi Ketua Panitia yang menyambut dan mendampingi kunjungan dua Pemimpin Tertinggi Katolik Dunia ke Indonesia, yaitu Sri Paus Paulus VI (1970) dan Sri Paus Yohanes Paulus II (1989).
Akhir Hayat Sang Maestro dari Timur
Frans Seda mengembus napas terakhirnya pada 31 Desember 2009 di usia 83 tahun. Kepergiannya meninggalkan legasi tak ternilai bagi bangsa yang berutang besar pada ketajaman pikirannya.
Kisah hidup Prof. Frans Seda mengajarkan kita bahwa sebuah kejujuran, kecerdasan, dan kecintaan pada tanah air mampu menembus sekat-sekat perbedaan politik. Dari hutan Flores, ia melangkah ke panggung dunia, menjinakkan inflasi yang gila, dan meninggalkan warisan emas yang membuat Indonesia tetap berdiri tegak hingga hari ini. (Red)













