Tabloidbnn.info | Karang Baru – Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Fahmi, M.H., menggelar pertemuan strategis bersama perwakilan pemuda dan relawan di Ruang Kerja Sekda Aceh Tamiang pada Kamis (29/1).
Pertemuan ini bertujuan membangun kolaborasi taktis guna mempercepat pemulihan kabupaten pasca-banjir bandang yang berdampak signifikan pada sektor hunian dan ekonomi masyarakat.
Dalam arahannya, Bupati Armia Fahmi menekankan bahwa kunci pemulihan Aceh Tamiang terletak pada sinergitas antara pemerintah, relawan, dan elemen pemuda. Beliau memberikan apresiasi mendalam kepada para relawan yang telah bekerja keras sejak hari pertama bencana.
”Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai pimpinan daerah, tapi sebagai bagian dari masyarakat Tamiang yang ingin melihat daerah kita bangkit. Kehadiran relawan, baik lokal maupun dari luar daerah, adalah bukti nyata bahwa kemanusiaan melampaui segalanya,” ujar Armia Fahmi.
Komitmen Rekonstruksi Hunian
Bupati memaparkan bahwa pemerintah daerah telah mengamankan komitmen bantuan rekonstruksi skala besar. Fokus utama saat ini adalah memastikan warga terdampak segera mendapatkan hunian yang layak.
”Kami telah memetakan kebutuhan mendesak. Melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, sektor swasta, dan lembaga donor, kita akan membangun ribuan Hunian Sementara (Huntara) bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Secara paralel, pembangunan Hunian Tetap (Huntap) terus kita dorong. Ini bukan sekadar membangun fisik, tapi mengembalikan martabat warga kita,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang juga merinci empat pilar bantuan utama:
- Sektor Perumahan: Alokasi stimulan rumah rusak berat dan unit Huntap/Huntara.
- Logistik & Pangan: Distribusi cadangan beras pemerintah untuk seluruh KK terdampak.
- Kesehatan & Pendidikan: Layanan kesehatan gratis berkelanjutan dan paket perlengkapan sekolah bagi siswa.
- Infrastruktur Desa: Dana darurat untuk perbaikan jembatan dan akses jalan produksi pertanian.
Aspirasi Pemuda: 9 Poin Urgensi
Dalam pertemuan tersebut, Koordinator Relawan, Helmi, menyampaikan hasil kajian lapangan yang merangkum 9 poin urgensi sebagai prioritas intervensi pemerintah:
- Rehabilitasi Fasum: Percepatan perbaikan sekolah dan fasilitas umum.
- Kontrol Tarif Penyeberangan: Menekan harga jasa “getek” di titik jalan putus yang saat ini memberatkan warga.
- Akselerasi Verifikasi Faktual: Mempercepat proses verfak bantuan rumah dan modal UMKM agar dana pusat segera cair.
- Optimalisasi Padat Karya: Melibatkan tenaga kerja lokal terdampak dalam proyek perbaikan desa.
- Pendampingan UMKM: Gerakan “Pengusaha Bantu Pengusaha” untuk menjaga stok dan harga pangan menjelang Ramadan/Idul Fitri.
- Reformasi Birokrasi: Memangkas prosedur bantuan yang berbelit.
- Beasiswa Pendidikan: Jaminan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga korban banjir.
- Digitalisasi “Lapor Bupati Armia”: Peluncuran platform digital untuk transparansi laporan bantuan langsung ke Bupati.
- Prioritas Bantuan Perabotan: Khusus bagi warga penyewa rumah (kontrakan) yang perabotannya rusak, didorong untuk masuk dalam skala prioritas bantuan perabotan rumah tangga.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan Aceh Tamiang sebagai model pemulihan bencana yang transparan dengan melibatkan peran aktif pemuda dalam pengawasan digital maupun manajerial.












