Masyarakat Kampung Alur Baung dan Paya Meta Butuh Jembatan Penghubung

  • Bagikan

Tabloidbnn.info | Aceh Tamiang – Kampung Alur Baung Kecamatan Karang Baru Salah satu Kampung Yang berada di daerah pedalaman dengan mayoritas penduduknya 80 persen berpenghasilan dari hasil produksi tani dan kebun.

Selama ini masyarakat di pedalaman itu hanya mengandalkan jalan milik perusahaan kelapa sawit dengan jarak tempuh yang lumayan jauh untuk menuju ke pusat Kecamatan Karang Baru.

Jika musim kemarau, jalan tersebut dipenuhi dengan tebalnya gumpalan debu bahkan tidak tembus pandang, begitu pula jika musim hujan, jalan tersebut penuh dengan lumpur dan berlubang.

Kondisi itu sudah dirasakan puluhan tahun oleh masyarakat yang berada di daerah pedalaman itu saat mereka menjalankan aktifitasnya.

Tak hanya petani dan pekebun, para PNS, Pegawai Honorer, Pegawai BUMN, Swasta serta para pelajar terpaksa harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk menuju pusat kecamatan dan pusat Kota.

Kondisi itu dibenarkan oleh Datok Penghulu Kampung Alur Baung, Abdul Aziz kepada wartawan tabloidbnn.info, Minggu, 17 November 2024 di salah satu warung kopi di karang baru.

Ia mengatakan, jika selama ini masyarakat yang berada di daerah pedalaman itu sangat membutuhkan jembatan penghubung antar kampung Alur Baung dan Paya Meta untuk mempermudah bagi mereka dalam melaksanakan aktifitasnya di luar kampung.

Selama ini, jalan utama untuk keluar menuju pusat kecamatan dan kabupaten hanya mengandalkan jalan uang dikelilingi oleh perusahaan kelapa sawit dan itu pun sangat jauh sehingga memakan waktu lama.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait yakni dinas PUPR Aceh Tamiang untuk bersedia membangun jembatan penghubung antar Kampung Alur Baung dan Paya Meta yang hanya terputus oleh parit sebagai jalan pintas yang lebih mudah dan efektif.

Menurutnya, jika jembatan penghubung itu dapat dibangun, tentu saja masyarakat akan lebih memilih jalan pintas dibandingkan jalan yang ada saat ini dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.

Jika dibandingkan, jarak tempuh antara jalan yang biasa dilalui oleh masyarakat dengan jalan pintas berselisih berkisar jarak 5 kilometer, tentunya hal ini dapat menghemat waktu dan biaya serta mempermudah bagi masyarakat yang berada di daerah pedalaman, kata Tok Azis.

Penulis: Abdul KarimEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *