Membangun Fondasi Kuat, Partai di Era Pemilu Proporsional Tertutup

  • Bagikan

Tabloidbnn.info. Aceh. Belakangan dunia perpolitikan di Indonesia sedang ramai oleh isu Mahkamah Konstitusi (MK) akan mengubah sistem Pemilu dari coblos nama caleg menjadi coblos gambar partai atau sistem pemilu dari sistem proporsional terbuka akan kembali ke sistem proporsional tertutup.

Mengokohkan Peran Partai dalam Sistem Pemilu Proporsional Tertutup, Dalam sistem pemilu proporsional tertutup, peran partai politik menjadi semakin signifikan. Sebagai pilar utama demokrasi, partai politik harus mampu menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan peluang dari sistem ini.

Menurut Mismaruddin Sofyan Kader Partai PBB sistem proporsional tertutup memiliki lebih banyak kelebihan, dan lebih cocok untuk diterapkan pada penyelenggaraan pemilu legislatif secara serentak. melalui plogspot.com pada hari Minggu (25/01).

Sistem pemilu proporsional tertutup membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi partai politik di Indonesia. Dalam sistem ini, pemilih tidak lagi memilih langsung calon legislatif, tetapi hanya memilih partai. Hal ini membuat peran partai semakin sentral, tidak hanya sebagai alat politik, tetapi juga sebagai representasi utama aspirasi masyarakat. Untuk menghadapi sistem ini, partai harus mengedepankan langkah strategis yang tidak hanya berorientasi pada kemenangan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Profesionalisme dan Transparansi Internal. Partai harus menjunjung tinggi prinsip profesionalisme dan transparansi dalam mengelola proses seleksi calon legislatif. Publik menuntut agar kandidat yang diusung bukan hanya berdasarkan kedekatan dengan elite partai, tetapi berdasarkan kapasitas, integritas, dan rekam jejak yang jelas. Dengan demikian, partai dapat menunjukkan komitmen pada kualitas demokrasi, bukan sekadar bagi-bagi kekuasaan.

Penguatan Kaderisasi dan Pendidikan Politik. Sistem proporsional tertutup mengharuskan partai fokus pada pembangunan kader yang berkualitas. Pendidikan politik harus menjadi program utama, tidak hanya untuk kader, tetapi juga untuk masyarakat luas. Dengan begitu, partai bisa menciptakan pemimpin yang visioner, serta mendekatkan diri pada masyarakat. Dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi, partai dapat menunjukkan bahwa mereka benar-benar mewakili aspirasi masyarakat.

Peningkatan Kredibilitas Partai. Dalam sistem ini, citra dan reputasi partai menjadi faktor penentu utama pilihan pemilih. Partai harus bekerja keras untuk menunjukkan konsistensi dalam memperjuangkan isu-isu yang relevan bagi masyarakat, seperti kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, partai perlu menjaga integritas dengan menghindari skandal politik dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran partai.

Membangun Kepercayaan Publik. Kepercayaan adalah modal utama bagi partai politik. Sistem proporsional tertutup memaksa partai untuk memperkuat hubungannya dengan masyarakat melalui program-program nyata yang menjawab kebutuhan publik. Partai yang konsisten dalam memperjuangkan aspirasi rakyat akan mendapatkan legitimasi yang lebih besar.
Mengoptimalkan Teknologi dan Media. Di era digital, partai harus adaptif terhadap teknologi. Strategi komunikasi melalui media sosial, aplikasi digital, dan platform daring harus dimaksimalkan untuk menyampaikan program partai, mendengar aspirasi masyarakat, dan membangun citra positif.

Meningkatkan Peran Perempuan dan Pemuda. Partai harus menjadi ruang yang inklusif bagi perempuan dan pemuda untuk berpartisipasi. Dengan memberikan ruang lebih besar kepada mereka, partai dapat menciptakan regenerasi yang solid dan mencerminkan keberagaman masyarakat.

Sistem pemilu proporsional tertutup bukanlah sekadar tantangan, melainkan juga peluang untuk membangun partai yang kuat, profesional, dan relevan. Dengan langkah yang tepat, partai dapat menjadi instrumen utama dalam mewujudkan demokrasi yang sehat dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Waktunya partai bertransformasi menjadi lebih dari sekadar kendaraan politik; partai harus menjadi penggerak perubahan sosial yang berarti.

Dengan memperkuat kualitas internal, meningkatkan komunikasi politik, dan membangun kepercayaan masyarakat, partai dapat menjadi pilar utama demokrasi yang kokoh. Di era ini, keberhasilan partai tidak hanya diukur dari perolehan suara, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu menjadi wajah harapan bagi rakyat yang mereka wakili.(…)

Penulis: MuzakkirEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *