Tabloidbnn.info | Karang Baru (4/3/2026) – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Tamiang kini sedang berjuang bangkit dari dampak destruktif bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang sejak akhir November 2025 lalu.
Di bawah kepemimpinan Direktur baru, Juanda, S.IP, perusahaan plat merah ini tengah melakukan langkah-langkah akselerasi luar biasa demi memulihkan layanan air bersih bagi masyarakat.
Dampak Masif: Pendapatan Nol Rupiah
Bencana hidrometeorologi yang memicu status Tanggap Darurat hingga 24 Februari 2026 (berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/211/2026) telah memporak-porandakan infrastruktur vital perusahaan. Dampaknya sangat signifikan:
Lumpuhnya Operasional: 8 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) terdampak berat.
Krisis Finansial: Pendapatan perusahaan menyentuh angka Nol Rupiah karena terhentinya tagihan kepada 29.572 Sambungan Rumah (SR) selama masa bencana.
Beban Operasional: Kas perusahaan telah terkuras untuk membiayai operasional periode Desember 2025–Januari 2026, yang berakibat pada ketidakmampuan membayar gaji karyawan serta THR untuk bulan Februari 2026 dan seterusnya.
Kerusakan Infrastruktur: Selain kerusakan akibat alam, jalur pipa banyak yang rusak akibat alat berat proyek rehabilitasi lingkungan, ditambah hilangnya ribuan water meter pelanggan.
Akselerasi Pemulihan dan Pembentukan Tim Khusus
Pasca dilantik pada 12 Februari 2026 oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, Juanda langsung bergerak cepat di tengah keterbatasan anggaran dan fasilitas. Ia membentuk dua tim krusial:
Tim Percepatan Pemulihan Infrastruktur Jaringan Perpipaan: Fokus pada perbaikan distribusi agar air segera mengalir ke rumah pelanggan.
Tim Pendampingan Pelaksanaan Pekerjaan (Rehabilitasi & Rekonstruksi): Bertugas mengawal program dari Kementerian PU agar tepat waktu dan tepat sasaran.
”Tim ini adalah garda terdepan untuk memastikan seluruh proses pemulihan berjalan terstruktur. Fokus utama kami saat ini adalah mengaktifkan kembali IPA Babo agar warga Kecamatan Bandar Pusaka segera mendapatkan layanan air yang layak,” ujar Juanda saat ditemui di Karang Baru, Rabu (4/3).
Membangun Kolaborasi Global dan Nasional
Menyadari beban berat yang dipikul, Juanda yang dikenal memiliki jiwa relawan ini membuka pintu komunikasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak:
Sektor NGO/LSM: Menggalang dukungan teknis dan pendanaan dari lembaga non-pemerintah untuk solusi jangka pendek.
Kementerian Pekerjaan Umum: Mengajukan permohonan bantuan tambahan untuk sektor krusial yang belum tertangani, seperti rekonstruksi Intake di Unit Seruway, Semadam, dan Sungai Iyu, serta pengadaan mobil tangki air dan bahan kimia (tawas & kaporit) untuk enam bulan ke depan.
Harapan bagi Stakeholder
Dalam nakhoda krisis ini, Juanda menitipkan harapan besar kepada seluruh elemen:
Pemerintah Pusat & Daerah: Memohon respons cepat terkait anggaran dan kebijakan khusus agar perusahaan tidak kolaps dan pelayanan publik tetap terjaga.
Karyawan: Juanda berkomitmen terus memperjuangkan hak-hak karyawan seiring dengan pulihnya stabilitas perusahaan.
Masyarakat: Memohon kesabaran dan kepercayaan dari 147.000 jiwa warga Aceh Tamiang bahwa pemulihan sedang diupayakan sekuat tenaga.
“Selama ada kepercayaan masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak, kami tidak akan berhenti. Kami berjuang memastikan setiap tetes air bersih kembali mengalir ke rumah warga,” pungkas Juanda optimis.












