Tabloidbnn.info. Dan dalam dunia intelijen, yang penting memang bukan siapa yang mampir, melainkan siapa yang bisa diam-diam dicatat.
Antara Pertahanan dan Pengawasan
Kini Pulau Nipah telah diperkuat dengan fasilitas militer dan pengawasan laut. Resmi disebut sebagai bagian dari pertahanan negara. Tak resmi, ia adalah balkon strategis untuk melihat lalu lintas global tanpa perlu pasang teropong terlalu jauh.
Di era ketika konflik jarang dimulai dengan tembakan, tetapi dengan data, sinyal, dan posisi strategis, pulau-pulau seperti Nipah berubah fungsi: dari tanah sunyi menjadi simpul informasi.
Ancaman yang diawasi pun bukan hanya kapal perang, tetapi juga penyelundupan, sabotase, hingga operasi intelijen senyap yang bergerak tanpa bendera.
Semua itu terjadi di perairan yang tampak tenang. Seolah laut tak pernah tahu bahwa ia sedang diawasi banyak mata.
Sindiran Halus Sebuah Pulau
Pulau Nipah mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: bahwa wilayah terluar bukan halaman belakang, melainkan teras depan. Ia menyambut dunia lebih dulu sebelum dunia masuk ke Indonesia.
Sayangnya, perhatian negara sering datang setelah ada masalah. Pulau ini diselamatkan setelah hampir hilang. Sebuah kebiasaan klasik: menyadari pentingnya sesuatu ketika ia hampir lenyap.
Padahal, di era ketika jalur laut China makin aktif, Selat Malaka makin padat, dan kompetisi geopolitik makin sunyi tapi tegang, Pulau Nipah tidak lagi bisa diperlakukan sebagai sekadar titik koordinat.
Ia adalah kalimat pendek dalam bahasa geopolitik: kecil, padat makna, dan tak boleh salah baca.
Karena jika sebuah pulau kecil bisa menentukan siapa melihat siapa di jalur perdagangan dunia, maka mengabaikannya adalah kemewahan yang tak bisa lagi dimiliki negara maritim seperti Indonesia.
*Penulis adalah Pengamat Perang Asimetris( Rahadi Wangsapermana)












