Ratusan Warga Pangkut Unjuk Rasa, Tuntut Janji dan Keadilan PT Astra di Kantor Camat Arut Utara

  • Bagikan

Tabloidbnn.info, Pangkalan Bun, Ratusan warga Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara (Aruta) Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, tumpah ruah di halaman kantor kecamatan setempat pada Selasa 15/07/2025.

Adapun aksi demo yang digelar warga masyarakat Pangkut ini, menuntut klarifikasi langsung dari pihak perusahan perkebunan kelapa sawit PT PBNA, anak perusahaan raksasa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk, terkait pelarangan pengambilan buah brondolan sawit, sumber penghidupan utama masyarakat sekitar.

Pemicunya adalah Sebuah video beredar, pernyataan Corporate Development Officer (CDO) PT PBNA yang viral beberapa waktu lalu, dimana ia menjanjikan akan menemui warga Pangkut pada hari ini, untuk membahas larangan tersebut, Namun ironisnya, sejak pagi pukul 07.00 WIB warga telah menunggu, hingga lewat pukul 11.30 WIB tak satu pun utusan perusahaan yang datang.

Suasana memanas di kantor kecamatan Aruta tersebut, warga mendesak pihak kecamatan dan Polsek Arut Utara, agar segera menghubungi pihak perusahaan. Setelah tekanan publik yang kuat, akhirnya dua perwakilan dari perusahaan muncul sekitar pukul 12.12 WIB Agus Wantara (SDO PT PBNA) dan Satria (SDO PT SINP).

Kemudian Pertemuan beberapa wakil warga Aruta, dilakukan tertutup di ruang camat, dihadiri oleh Kasipem Eko Budi Rahmanto, yang mewakili camat, Lurah Pangkut, Babinsa,Wakapolsek

Dalam pertemuan itu, Eko dengan nada tegas menyatakan kekecewaannya,Kami sangat menyayangkan ketidaktahuan pemerintah kecamatan terkait janji perusahaan kepada warga, harusnya diberitahukan kepada kami, agar pertemuan bisa difasilitasi secara resmi dan kondusif.

Salah satu warga bahkan memperlihatkan langsung video CDO yang menjanjikan pertemuan hari ini, memperkuat fakta bahwa perusahaan terkesan ingkar janji.

Tidak hanya soal brodolan buah kelapa sawit, warga juga menyampaikan kekecewaannya terhadap program CSR Astra, yang dianggap hanya sebatas slogan saj, dan Eko menyebut jalan desa rusak, minimnya bantuan saat perayaan HUT RI, dan lemahnya kontribusi nyata perusahaan, bagi warga sekitar.

CSR itu katanya untuk masyarakat, tapi jalan desa saja dibiarkan rusak, warga minta bantuan HUT RI saja dipersulit. Kami tidak minta tiap bulan, cukup setahun sekali saja untuk kegiatan kemasyarakatan, ungkap Eko kepada awak media.

Menanggapi kritikan pedas warga Aruta tersebut, Agus Wantara berdalih bahwa mungkin program CSR belum diketahui secara luas, dan menyebut telah ada bantuan pendidikan, infrastruktur,dan tenaga kerja.

Setelah pertemuan, kedua perwakilan perusahaan itu, akhirnya menemui warga yang telah berkumpul di depan kantor kecamatan setempat, Namun harapan kembali pupus saat Agus menyatakan tidak bisa memberikan keputusan apa pun.

Kami hanya menyampaikan bahwa keputusan akhir ada di tangan General Manager Mohon bersabar, keputusan akan kami umumkan hari Kamis minggu depan, ujarnya di hadapan massa aksi.

Walaupun merasa kecewa, wargapun tetap menjaga ketertiban selama aksi berlangsung, Perwakilan warga lainya Umar mengambil alih suasana dan menenangkan massa.
Kami hormati proses ini, mari kita pulang dengan tenang dan tunggu keputusan hari Kamis. Tapi kami berharap perusahaan serius karna ini menyangkut perut rakyat, ujarnya.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit saat ini, di mana tambang telah di tutup, hutan dibatasi, dan peluang kerja sempit pengambilan brondolan sawit menjadi satu satunya harapan hidup warga masyarakat, kini menanti apakah janji Astra akan berubah menjadi solusi, atau sekadar omong kosong korporasi.

Hingga berita ini diturunkan belum ada titik terang, atau komitmen tegas dari pihak perusahaan PT Astra dan pasti masyarakat Pangkut, tidak akan hanya tinggal diam.

Penulis: Gusti AhyarEditor: Zion
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *