Tablodbnn.info | Batam – Ratusan warga Kecamatan Batu Ampar, khususnya wilayah Tanjung Sengkuang, menyuarakan protes keras terkait persoalan air bersih yang kerap mati dan tidak mengalir selama berhari-hari. Kondisi tersebut dinilai sangat meresahkan masyarakat karena berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari hingga aktivitas ekonomi warga.
Air yang sering mati membuat tanaman warga mengering dan mati. Sejumlah pelaku usaha kecil seperti usaha cuci motor, laundry, hingga warung makan terpaksa menutup layanan karena ketiadaan pasokan air bersih.
Kekecewaan warga itu diwujudkan melalui rencana aksi damai masyarakat Tanjung Sengkuang yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Januari 2026, mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, dengan titik kumpul di Simpang 4 Melcem dan dilanjutkan ke Kantor DPRD Kota Batam.
Dalam poster aksi yang beredar, warga menyampaikan lima tuntutan utama, di antaranya:
Evaluasi terhadap pengelola air karena air sering mati di Tanjung Sengkuang.
Transparansi jalur distribusi air tanpa alasan perbaikan yang berulang.
Pergantian pengelola air bersih yang dinilai tidak mampu.
Pemanggilan pihak pengelola air, Pemko Batam, dan BP Batam sebelum aksi dibubarkan. Aksi tidak akan dibubarkan sebelum ada kesepakatan yang jelas.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (DPW IPJI) Provinsi Kepri, Ismail Ratusimbangan, turut mengkritik keras kondisi tersebut. Ia menilai persoalan air bersih di Tanjung Sengkuang sudah berlangsung lama namun belum mendapat penanganan serius dari pihak terkait.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Jika terus bermasalah dan dibiarkan, ini bentuk kegagalan pelayanan publik. Pemerintah dan pengelola harus bertanggung jawab dan segera memberikan solusi nyata,” tegas Ismail.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Lurah Tanjung Sengkuang belum memberikan konfirmasi resmi terkait keluhan dan rencana aksi warga tersebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan agar persoalan air bersih tidak terus berlarut-larut.
“Suara rakyat Tanjung Sengkuang harus didengar,” demikian seruan warga dalam poster aksi damai tersebut.
Lanjut Ismail, karena Egois nya BP Batam untuk mengelola sendiri dengan harapan untung besar, namun mereka tidak memahami, Air itu menyangkut kehidupan orang banyak dan diatur oleh undang-undang.
Pada saat air di kelola oleh swasta seperti ATB persoalan air tidak separah ini dan pipa induk sebagian sudah di revitalisasi oleh ATB.
Sangat heran saya mendengar kepala BP Batam mengatakan anggaran terbatas.
Menyangkut anggaran bukankah masyarakat membayar air lancar tidak boleh hutang ?, jadi uang pembayaran masyarakat itu untuk biaya pemeliharaan.
Dan wajar jika mendapatan BP Batam saat ini terbatas, disebabkan karena ada beberapa pelayanan bertahun tahun tidak jalan.
Karena segala Perijinan tidak jalan, seperti kewenangan penuh BP Batam diberikan tidak bisa di eksekusi, kita tidak tahu apa penyebab, apa tidak mampu?.
Kita perhatikan masalah air berlarut larut sementara setiap tahun kebutuhan masyarakat semakin bertambah, selaku pemimpin harus bertanggung jawab, karena air kebutuhan masyarakat pokok.












